Kejagung soal Kasus Kopi Sianida Kembali Viral: Telah Diuji 5 Kali

Kejagung soal Kasus Kopi Sianida Kembali Viral: Telah Diuji 5 Kali

Terdakwa kasus kematian Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso saat mendengarkan pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 5 Oktober 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia — Kasus kematian Wayan Mirna Salihin yang disebut karena pemberian racun sianida oleh Jessica Kumala Wongso kembali menjadi perbincangan publik.
Kasus yang sempat menghebohkan pada tahun 2016 itu kembali viral buntut tayangan dokumenter bertajuk “Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso” milik Netflix.


Merespon pelbagai tudingan yang ada, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana memastikan bahwa kasus tersebut sudah selesai secara hukum.

Menurutnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah menjalankan tugasnya membuktikan kasus pembunuhan Mirna dalam lima tingkatan sidang. Mulai dari sidang perkara di pengadilan negeri, sidang banding, sidang kasasi, dan dua kali sidang peninjauan kembali (PK) di tingkat Mahkamah Agung (MA).

“Saya nyatakan bahwa kasus itu telah selesai oleh karena telah di uji lima kali berbagai tingkatan pengadilan mulai dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung bahkan telah dua kali dilakukan upaya hukum luar biasa berupa PK,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/10).

Meski begitu, Ketut enggan membahas lagi soal substansi pokok perkara termasuk proses pembuktian bahwa Jessica merupakan pembunuh Mirna. Sebab hal tersebut sudah dilakukan JPU kepada lima majelis hakim yang berbeda.

Ketut menilai kondisi itu juga diperkuat lantaran dalam proses persidangan yang sudah berjalan, tidak pernah ada dissenting opinion dari anggota Majelis Hakim.

“Sehingga menurut saya pembuktian tersebut telah sempurna menunjukkan saudara Jessica adalah pelakunya, sebagai orang yang dipersalahkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap,” jelasnya.

Sebagai aparat penegak hukum, kata dia, harus menjunjung tinggi kerja dan proses yang telah berjalan sekitar hampir tujuh tahun lalu.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan asas hukum res judicata pro veritate habetur atau asas Res Judicata yang berarti semua putusan hakim harus dianggap benar.

Hal itu dianggap sudah melalui proses yang benar, sistem pembuktian yang benar dan melakukan penilaian terhadap alat-alat bukti yang diajukan, serta ditambah dengan keyakinan hakim.

“Tidak ada alasan bagi kita untuk menyatakan ada kekeliruan maupun kesalahan dalam mengambil keputusan oleh majelis hakim yang hanya berdasarkan opini yang dibangun dalam film dokumenter,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ketut menambahkan bahwa proses hukum yang dilaksanakan terkait kasus pembunuhan Mirna saat itu terbuka untuk umum dan disiarkan diberbagai media. Oleh karenanya ia berharap tidak lagi ada polemik mengenai kasus yang sudah berkekuatan hukum tetap itu.

“Untuk itu kiranya agar tidak dijadikan polemik kembali, dan mempersilakan berbagai pihak yang dirugikan untuk melakukan upaya-upaya hukum yang telah disediakan berdasarkan ketentuan UU yang berlaku,” pungkasnya.

Sebagai informasi, terpidana kasus pembunuhan berencana terhadap Mirna Salihin, yakni Jessica Kumala Wongso, hingga kini masih menjalani hukuman.

Jessica Kumala Wongso telah dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman 20 tahun penjara karena membunuh dengan memasukkan racun sianida ke dalam es kopi vietnam korban.

Pengacara Jessica Akan Ajukan PK, Kejagung Sebut Kasus Selesai

Pengacara Jessica Akan Ajukan PK, Kejagung Sebut Kasus Selesai

Pengacara terpidana Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan mengakui bakal kembali mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK) pada kasus pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin ke Mahkamah Agung (MA).

Otto belum mengungkap lebih lanjut terkait bukti baru atau novum sebagai syarat pengajuan PK tersebut.

Kendati demikian, Otto berjanji akan menyampaikan hal itu ketika sudah pulang dari luar negeri.

“Iya kami akan mengajukan PK,” ujar Otto kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Senin (9/10).

MA telah menolak PK Jessica pada awal Desember 2018 lalu, sehingga yang bersangkutan tetap dihukum 20 tahun penjara. Perkara itu diadili oleh hakim agung Suhadi, Sri Murwahyuni dan Sofyan Sitompul.

Sebelumnya, Jessica mengajukan PK usai kasasi yang dia ajukan ditolak MA pada 21 Juni 2017. Kala itu, Hakim agung Artidjo Alkostar (almarhum) yang duduk sebagai ketua majelis hakim dalam sidang kasasi Jessica.

Mantan hakim agung itu membeberkan pengalamannya mengadili perkara kasasi Jessica dalam buku ‘Artidjo Alkostar, Titian Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan’ sebagai tanda pensiunnya.

Pada buku itu, Artidjo membincangkan kasus Jessica dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Kasus pembunuhan itu terjadi pada awal 2016 atau saat Tito masih menjabat Kapolda Metro Jaya.

Kepada Tito, Artidjo mengatakan, “Setelah mengamati beberapa persidangan, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa Jessica bersalah. Alasannya kopi beracun itu dipegang beberapa orang, pembuat, pengantar, Jessica, dan peminum. Dari empat orang itu, jika dianalisis, peminum tidak mungkin melakukan. Lalu pembuat dan pengantar tidak punya motif melakukan, tapi Jessica memiliki motif dan ada hubungan erat dengan peminum.”

Tito pun menyampaikan pandangannya terkait analisis Artidjo.

“Memang kalau yang menganalisis seorang hakim senior sekelas Pak Artidjo, kasus seperti ini menjadi sangat mudah,” demikian ucap Tito pada testimoninya yang tercantum dalam buku tersebut.

Kejagung buka suara

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Ketut Sumedana mengatakan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh Jessica Wongso telah selesai dengan segala pembuktian dan pengujian yang dilakukan.

Oleh karena itu, tidak ada alasan dinyatakan ada kekeliruan atau kesalahan dalam keputusan hakim.

“Saya nyatakan bahwa kasus itu telah selesai, karena telah diuji lima kali dalam berbagai tingkatan pengadilan mulai dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi, Mahkamah Agung, bahkan telah dua kali dilakukan upaya hukum luar biasa berupa PK (peninjauan kembali),” jelas Ketut di Jakarta, Selasa.

Ketut buka suara terkait kasus Jessica Wongso lantaran banyak media yang bertanya kepada dirinya usai kasus yang dikenal dengan istilah “Kopi Sianida” diangkat lewat film dokumenter di salah satu penyedia layanan pengaliran media digital dengan judul “Ice Cold” menjadi viral.

Menurut Ketut, film dokumenter tersebut sangat mempengaruhi opini publik terhadap kasus yang terjadi di awal 2016.

Dia mengatakan jaksa penuntut umum telah mampu meyakinkan hakim dalam proses pembuktian dalam berbagai tingkatan, dan tidak satupun ada anggota Majelis Hakim yang menyatakan dissenting opinion atau berbeda pendapat.

“Menurut saya, pembuktian tersebut telah sempurna menunjukkan saudara Jessica adalah pelakunya, sebagai orang yang dipersalahkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap,” kata Ketut.

Dalam posisi ini, Ketut mengatakan sebagai aparat penegak hukum hendaknya menjunjung tinggi kerja dan proses yang telah dilaksanakan yang sudah hampir tujuh tahun lamanya.

Hal itu dengan memahami mengenai asas hukum “Res Judicata pro veritate habetur” atau asas Res Judicata yang berarti semua putusan hakim harus dianggap benar.

“Oleh karena sudah melalui proses yang benar, sistem pembuktian yang benar dan melakukan penilaian terhadap alat-alat bukti yang diajukan ditambah dengan keyakinan hakim,” tutur dia.

Mantan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Bali itu menekankan agar kasus Jessica Wongso tidak menjadi polemik.

Sebab, kata dia, tidak ada alasan siapapun untuk menyatakan ada kekeliruan maupun kesalahan dalam mengambil keputusan oleh majelis hakim yang hanya berdasarkan opini yang dibangun dalam film dokumenter. Apalagi proses hukum yang dilaksanakan pada saat itu terbuka untuk umum dan bahkan disiarkan di berbagai media.

“Untuk itu kiranya agar tidak dijadikan polemik kembali, dan mempersilakan berbagai pihak yang dirugikan untuk melakukan upaya-upaya hukum yang telah disediakan berdasarkan ketentuan UU yang berlaku,” terangnya.

Film dokumenter kasus Kopi Sianida dengan judul “Ice Cold” tayang di platform Netflix menjadi trending di penayangan Indonesia. Karena penayangan tersebut, masyarakat pun meragukan Jessica adalah pembunuh Mirna Salihin dengan kopi sianida.

Pengacara Jessica Akan Ajukan PK, Kejagung Sebut Kasus Selesai

Pengacara Jessica Akan Ajukan PK, Kejagung Sebut Kasus Selesai

Pengacara terpidana Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan mengakui bakal kembali mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK) pada kasus pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin ke Mahkamah Agung (MA).

Otto belum mengungkap lebih lanjut terkait bukti baru atau novum sebagai syarat pengajuan PK tersebut.

Kendati demikian, Otto berjanji akan menyampaikan hal itu ketika sudah pulang dari luar negeri.

“Iya kami akan mengajukan PK,” ujar Otto kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Senin (9/10).

MA telah menolak PK Jessica pada awal Desember 2018 lalu, sehingga yang bersangkutan tetap dihukum 20 tahun penjara. Perkara itu diadili oleh hakim agung Suhadi, Sri Murwahyuni dan Sofyan Sitompul.

Sebelumnya, Jessica mengajukan PK usai kasasi yang dia ajukan ditolak MA pada 21 Juni 2017. Kala itu, Hakim agung Artidjo Alkostar (almarhum) yang duduk sebagai ketua majelis hakim dalam sidang kasasi Jessica.

Mantan hakim agung itu membeberkan pengalamannya mengadili perkara kasasi Jessica dalam buku ‘Artidjo Alkostar, Titian Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan’ sebagai tanda pensiunnya.

Pada buku itu, Artidjo membincangkan kasus Jessica dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Kasus pembunuhan itu terjadi pada awal 2016 atau saat Tito masih menjabat Kapolda Metro Jaya.

Kepada Tito, Artidjo mengatakan, “Setelah mengamati beberapa persidangan, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa Jessica bersalah. Alasannya kopi beracun itu dipegang beberapa orang, pembuat, pengantar, Jessica, dan peminum. Dari empat orang itu, jika dianalisis, peminum tidak mungkin melakukan. Lalu pembuat dan pengantar tidak punya motif melakukan, tapi Jessica memiliki motif dan ada hubungan erat dengan peminum.”

Tito pun menyampaikan pandangannya terkait analisis Artidjo.

“Memang kalau yang menganalisis seorang hakim senior sekelas Pak Artidjo, kasus seperti ini menjadi sangat mudah,” demikian ucap Tito pada testimoninya yang tercantum dalam buku tersebut.

Kejagung buka suara

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Ketut Sumedana mengatakan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh Jessica Wongso telah selesai dengan segala pembuktian dan pengujian yang dilakukan.

Oleh karena itu, tidak ada alasan dinyatakan ada kekeliruan atau kesalahan dalam keputusan hakim.

“Saya nyatakan bahwa kasus itu telah selesai, karena telah diuji lima kali dalam berbagai tingkatan pengadilan mulai dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi, Mahkamah Agung, bahkan telah dua kali dilakukan upaya hukum luar biasa berupa PK (peninjauan kembali),” jelas Ketut di Jakarta, Selasa.

Ketut buka suara terkait kasus Jessica Wongso lantaran banyak media yang bertanya kepada dirinya usai kasus yang dikenal dengan istilah “Kopi Sianida” diangkat lewat film dokumenter di salah satu penyedia layanan pengaliran media digital dengan judul “Ice Cold” menjadi viral.

Menurut Ketut, film dokumenter tersebut sangat mempengaruhi opini publik terhadap kasus yang terjadi di awal 2016.

Dia mengatakan jaksa penuntut umum telah mampu meyakinkan hakim dalam proses pembuktian dalam berbagai tingkatan, dan tidak satupun ada anggota Majelis Hakim yang menyatakan dissenting opinion atau berbeda pendapat.

“Menurut saya, pembuktian tersebut telah sempurna menunjukkan saudara Jessica adalah pelakunya, sebagai orang yang dipersalahkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap,” kata Ketut.

Dalam posisi ini, Ketut mengatakan sebagai aparat penegak hukum hendaknya menjunjung tinggi kerja dan proses yang telah dilaksanakan yang sudah hampir tujuh tahun lamanya.

Hal itu dengan memahami mengenai asas hukum “Res Judicata pro veritate habetur” atau asas Res Judicata yang berarti semua putusan hakim harus dianggap benar.

“Oleh karena sudah melalui proses yang benar, sistem pembuktian yang benar dan melakukan penilaian terhadap alat-alat bukti yang diajukan ditambah dengan keyakinan hakim,” tutur dia.

Mantan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Bali itu menekankan agar kasus Jessica Wongso tidak menjadi polemik.

Sebab, kata dia, tidak ada alasan siapapun untuk menyatakan ada kekeliruan maupun kesalahan dalam mengambil keputusan oleh majelis hakim yang hanya berdasarkan opini yang dibangun dalam film dokumenter. Apalagi proses hukum yang dilaksanakan pada saat itu terbuka untuk umum dan bahkan disiarkan di berbagai media.

“Untuk itu kiranya agar tidak dijadikan polemik kembali, dan mempersilakan berbagai pihak yang dirugikan untuk melakukan upaya-upaya hukum yang telah disediakan berdasarkan ketentuan UU yang berlaku,” terangnya.

Film dokumenter kasus Kopi Sianida dengan judul “Ice Cold” tayang di platform Netflix menjadi trending di penayangan Indonesia. Karena penayangan tersebut, masyarakat pun meragukan Jessica adalah pembunuh Mirna Salihin dengan kopi sianida.

from Blogger Polri https://ift.tt/unHamKh
via IFTTT

Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Terhadap Bahaya Narkoba , Kampung Bebas Narkoba Polres Tanah Laut Getol Sosialisasi

Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Terhadap Bahaya Narkoba , Kampung Bebas Narkoba Polres Tanah Laut Getol Sosialisasi

Pada Rabu(11/10), posko Kampung Bebas Narkoba yang, berlokasi di jalan Ambawang, Kelurahan Sarang Halang, Kabupaten Tanah Laut, Menjadi tempat berlangsunya kegiatan sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama siswa/siswi SMK Farmasi intan Barahusada pelaihari, mengenai Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan san Peredaran Gelap Narkoba

Acara tersebut dipimpin oleh KBO Sat Narkoba, IPDA NOPRIANSYAH yang turut didampingi oleh anggota Sat Narkoba Polres Tanah Laut, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat serta memberikan gambaran nyata tentang bahaya narkoba kebada para peserta

Sosialisasi ini di hadiri oleh siswa/siswi dari SMK Farmasi intan Barahusada pelaihari beserta para guru dari sekolah tersebut, para siswa/siswi dijemput menggunakan sarana yang dimiliki polres tanah laut, menunjukan komitmen pihak berwenang dalam mendukung program pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Tinjau Pembangunan 3 Gedung Baru di Polresta Malang Kota, Kapolda Jatim Apresiasi Sinergitas Pemerintah Kota

Tinjau Pembangunan 3 Gedung Baru di Polresta Malang Kota, Kapolda Jatim Apresiasi Sinergitas Pemerintah Kota

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Dr. Toni Harmanto, memberikan apresiasi terhadap sinergitas antara Pemerintah Kota Malang dan Polresta Malang Kota dalam pembangunan tiga gedung opsnal. Kunjungan ini dilakukan bersama beberapa Pejabat Utama Polda Jatim.

Gedung-gedung tersebut merupakan hibah dari Pemerintah Kota Malang dan akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat kota. Kapolda Jatim mengungkapkan kegembiraannya atas progres pembangunan infrastruktur pelayanan yang terus dikembangkan

“Pada kunjungan saya ke Polresta Malang Kota hari ini, saya merasa senang sekali atas progres yang terus dikembangkan terkait dengan infrastruktur pelayanan bagi masyarakat,” ungkap Irjen Toni pada Selasa (10/10).

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kota Malang atas hibah bangunan untuk kemudian direalisasikan oleh Polresta Malang Kota. Ini adalah wujud sinergitas dan dukungan nyata dari pemerintah Kota Malang.

Selain pembangunan gedung opsnal, Irjen Pol. Toni Harmanto juga memberikan apresiasi terhadap Kantor Pelayanan Publik Terpadu Polresta Malang Kota, Sarja Arya Racana, yang semakin nyaman dan optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol. Budi Hermanto, menjelaskan bahwa peletakan batu pertama pembangunan gedung hibah dari Pemkot dilaksanakan pada 16 September lalu. Rencananya, gedung opsnal ini akan selesai pada 14 Desember mendatang.

Gedung opsnal tersebut akan didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan pada pelayanan Sat Reskrim, Sat Samapta, dan lahan parkir Polresta Malang Kota. Kunjungan Kapolda Jatim ini dianggap sebagai dukungan terhadap komitmen Polresta Malang Kota untuk memberikan pelayanan terbaik, terutama bagi kelompok rentan di wilayah hukum Kota Malang.

Pemilu Aman dan Kondusif, Polres Metro Tangerang Kota Gelar Latihan Pra Operasi Mantap Brata Jaya 2023,-2024

Pemilu Aman dan Kondusif, Polres Metro Tangerang Kota Gelar Latihan Pra Operasi Mantap Brata Jaya 2023,-2024

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho melaksanakan kegiatan Lat Pra Ops dalam rangka persiapan Operasi Mantap Brata Jaya 2023-2024 di Aula Polres Metro Tangerang Kota, Rabu (11/10/2023).
Latihan Pra Operasi (Lat Pra Ops) Mantap Brata Jaya 2023-2024, Disebut Zain, harus dilakukan secara proporsional, fungsional, dan akuntabel serta dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh personel yang terlibat.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran secara teknis dan teknik apa yang harus dilakukan pada pelaksanaan tugas Pengamanan Pemilu sesuai dengan prosedur, humanis dan tegas. Sehingga Pemilu ini dapat berjalan dengan aman dan kondusif,” ungkapnya.
Kapolres menambahkan, seluruh personel Polres Metro Tangerang Kota, Polda Metro Jaya untuk selalu menjaga sinergitas, komunikasi dan kerjasama terutama kepada seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan tugas atau tahapan Pemilu.
“Menjalin komunikasi dan berkolaborasi dengan semua pihak sehingga semua agenda dapat berjalan dengan baik, sesuai prosedur dan sesuai yang diharapkan bersama,” tuturnya.
Zain pun berpesan kepada seluruh personel untuk mengikuti kegiatan simulasi atau penanganan rangkaian pelaksanaan Pemilu 2024. siap menghadapi setiap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mungkin bisa terjadi.
“Dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan bersama dan komunikasi yang baik, terutama dalam bertindak, sehingga dapat mengatasi setiap kejadian yang berkembang dan berpotensi merusak pelaksanan, mulai dari rangkaian, pelaksanan hingga sesudah Pemilu 2024 mendatang,” tukasnya.
Untuk diketahui usai dibukanya Lat Pra Ops Mantap Brata 2023-2024 oleh Kapolres Kombes Zain Dwi Nugroho kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi atau paparan Kasat Intelkam, Kabag Ops, Kasat Reskrim, Komisioner Bawaslu dan Ketua Komisi Pemilihan Umum.

Harapan Milenial Di Pemilu 2024 , Kita Punya Peran yang Sama, Sukseskan Pemilu 2024 Mendatang

Harapan Milenial Di Pemilu 2024 , Kita Punya Peran yang Sama, Sukseskan Pemilu 2024 Mendatang

JAKARTA – liputanterkini.co.id | Masyarakat Indonesia tak lama lagi akan memasuki pesta demokrasi Pemilihan umum 2024. Kita masyarakat Indonesia khususnya Kaum muda atau milenial memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan siapa pemimpin masa depan bangsa Indonesia ke depan.

Sebagai warga negara yang baik, kita juga memiliki peran yang sama dalam mensukseskan Pemilu 2024 agar berjalan dengan aman dan damai.

Karena pada pelaksanaan Pemilu 2024, pemuda memiliki peran strategis dengan menjual ide/gagasan kepada pemangku kepentingan, bekerja sama dengan penyelenggara Pemilu, dan ikut mengawasi dan menjadi bagian peserta Pemilu untuk mewujudkan Pemilu yang berkualitas.

Hal itu tentu membutuhkan komitmen tinggi untuk berkompetisi dengan cara-cara yang dibenarkan berdasarkan aturan main yang telah ditetapkan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang maupun aturan turunannya baik di Peraturan KPU (KPU) maupun Bawaslu. Lebih substantif lagi, seluruh kontestan bisa meraba suasana kebatinan di masyarakat bahwa yang dibutuhkan dari regularitas penyelenggaraan pemilu itu ialah perbaikan nasib bangsa dan negara ini ke depan, yang akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bukan semata menjadi ‘hajatan’ elite yang bisa dinikmati dari, oleh, dan untuk elite semata.

Kalau harapan kalian untuk Pemilu 2024 apa ya? Coba tulis di kolom komentar ya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Tony Hermanto Kunjungi Polresta Malang Kota Cek Pembangunan 3 Gedung Baru

Kapolda Jatim Irjen Pol Tony Hermanto Kunjungi Polresta Malang Kota Cek Pembangunan 3 Gedung Baru

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Toni Harmanto bersama Pejabat Utama (PJU) Polda Jatim, melakukan kunjungan kerja ke Polresta Malang Kota, Selasa (10/10/2023) sore.
Dalam kunjungannya tersebut, Irjen Pol Toni Harmanto didampingi Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto mengecek progres pembangunan tiga gedung baru.
Selain mengecek progres pembangunan tiga gedung baru, juga melihat layanan publik yang ada di Kantor Pelayanan Terpadu Sarja Arya Racana Polresta Malang Kota.

Sebagai informasi, Polresta Malang Kota melakukan pembangunan tiga gedung baru. Yaitu gedung Sat Samapta, Sat Reskrim dan area parkir.
Untuk pembangunan tiga gedung baru tersebut, memakai anggaran hibah dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang senilai Rp 6,5 miliar.

“Jadi, kami melihat serta memastikan. Karena memang ke depan, kami untuk terus dapat meningkatkan pelayanan publik,” ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Toni Harmanto kepada TribunJatim.com, Selasa (10/10/2023).
Dirinya juga mengapresiasi sinergitas yang baik antara Pemkot Malang dengan Polresta Malang Kota. Yang diwujudkan di dalam pembangunan tiga gedung baru tersebut.
“Fasilitas pembangunan yang diberikan, merupakan hibah dari pemerintah daerah. Ini suatu bentuk bukti kolaborasi, antara kepolisian dengan pemerintah daerah,” terangnya.
Sementara itu, Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto menjelaskan, di dalam pembangunan gedung baru tersebut telah dipersiapkan tim pengawasan.

“Intinya di dalam pembangunan ini, kami telah mempersiapkan tim pengawasan internal yang dipimpin oleh Wakapolresta Malang Kota. Hal ini bertujuan, agar pembangunan tersebut berjalan sesuai dengan spesifikasi. Karena nantinya, bangunan ini akan digunakan dalam waktu jangka panjang,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa BuHer ini juga menambahkan, bahwa target pembangunan yaitu 106 hari. Terhitung sejak peletakan batu pertama yang dilakukan pada Sabtu (16/9/2023) lalu.
“Pembangunan terus dikerjakan dan harus selesai diserahterimakan pada 14 Desember 2023. Dalam pembangunan gedung baru ini, tentunya memperhatikan prasarana ramah disabilitas seperti jalur guiding block, pegangan tangan (handrail), dan pintu geser. Semoga, hal ini bisa memberikan manfaat dan dapat memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat,” pungkasnya.

Deddy Corbuzier Bagikan Bukti Rahasia Jessica Wongso Yang Tidak Dimiliki Netflix

Deddy Corbuzier Bagikan Bukti Rahasia Jessica Wongso Yang Tidak Dimiliki Netflix

Kasus Jessica Wongso masih mendapatkan perhatian media dan telah ada berbagai diskusi dan dokumenter tentangnya. Salah satunya dalam podcast Deddy Corbuzier, seorang mentalis dan pesulap Indonesia.
Deddy Corbuzier telah melakukan penelitian yang ekstensif tentang kasus Jessica Wongso dan telah membagikan temuannya dalam podcast di channel youtube-nya. Berikut ini beberapa data tentang kasus Jessica Wongso yang dibagikan oleh Deddy Corbuzier, yang tidak tersedia di Netflix.
Dua Skenario Kemungkinan
Deddy Corbuzier menyimpulkan bahwa ada dua skenario kemungkinan untuk motif Jessica Wongso dalam melakukan pembunuhan.
Pertama, dia adalah “kambing hitam” untuk seseorang yang melakukan kejahatan, dan kedua, dia adalah seorang psikopat yang melakukan pembunuhan untuk kesenangannya sendiri.

Deddy Corbuzier juga mewawancarai Otto Hasibuan, seorang pengacara yang mewakili Jessica Wongso selama persidangan.
Otto Hasibuan membagikan beberapa data dengan Deddy Corbuzier, termasuk fakta bahwa Jessica Wongso memiliki riwayat penyakit mental dan pernah dirawat di rumah sakit karena depresi.
Surat Ancaman Untuk Keluarga Mirna
Tidak hanya itu, Deddy Corbuzier juga mewawancarai keluarga Wayan Mirna dan membagikan beberapa data dari mereka.

Dia mengungkapkan bahwa keluarga Wayan Mirna telah menerima surat ancaman setelah kematiannya, yang mereka yakini terkait dengan kasus ini.
Sianida Berkualitas Tinggi
Dalam podcastnya bersama Dr. Richard Lee, seorang toksikolog forensik yang memberikan kesaksian selama persidangan Jessica Wongso.

Richard Lee membagikan beberapa data dengan Corbuzier, termasuk fakta bahwa sianida yang digunakan untuk meracuni kopi Wayan Mirna merupakan sianida yang berkualitas tinggi dan hanya bisa diperoleh dari pemasok kimia.
Baca Juga: Podcast Deddy Corbuzier Dan Richard Lee Kena Take Down Usai Bahas Kopi Sianida Jessica Wongso, Kok Bisa?
Namun, podcast ini mendapat peringatan bahkan sempat di-take down oleh beberapa platform media sosial.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah ada pihak-pihak tertentu yang ingin menutupi fakta-fakta dalam kasus ini.
Jessica Tertangkap Berbohong Tentang Pendidikannya
Bahkan Deddy Corbuzier telah melakukan penelitian sendiri tentang kasus ini. Ia mengungkapkan bahwa Jessica Wongso memiliki riwayat berbohong dan pernah tertangkap berbohong tentang pendidikan dan pengalaman kerjanya.

Jasad Mirna Disebut Tidak Autopsi Secara Benar. Irjen Krishna Murti : Itu Keliru Besar

Jasad Mirna Disebut Tidak Autopsi Secara Benar. Irjen Krishna Murti : Itu Keliru Besar

Irjen Krishna Murti angkat bicara dan memberikan reaksi tegas terkait autopsi Wayan Mirna Salihin disebut cacat prosedur.

Krishna Murti yang saat itu menjadi pemimpin kasus tewasnya Mirna dengan tertuduh Jessica Wongso sebagai pelaku pemberi racun menurut Otto Hasibuan dianggap banyak main intrik di perkara ini.

Pengacara Otto Hasibuan di podcast Deddy Corbuzier secara terang-terangan mengatakan bahwa jenazah Mirna Salihin tidak diautopsi dengan benar, namun hanya diambil sample sebagian.

Menurut Irjen Krishna Murti, pernyataan Pengacara Otto Hasibuan soal jenazah Mirna Salihin tidak diautopsi dengan benar itu keliru besar.

“Siapa bilang tidak ada otopsi? Hasil otopsi disebut VER dan selanjutnya dikuatkan oleh ahli kedokteran forensik resmi. Bahwa pihak sana menghadirkan ahli forensik tandingan itu adalah sah2 saja,” tegas Krishna Murti dikutip pada akun Instagram pribadinya, pada Minggu (8/10/2023).

“Dan yg banyak biacara di media bukanlah dokter yg melakukan pembedahan. Upaya apapun yg dilakukan pengacara dalam sistem peradilan pidana itu adalah hak yg sah, tdk berarti pengacara bisa secara bebas mendelegitimasi kinerja para penegak hukum dari penyidik, JPU, hakim, hakim agung dst yang mengatakan tdk ada otopsi,” imbuhnya.

Krishna Murti juga meminta Otto Hasibuan selaku pengacara Jessica tidak menggunakan panggung lain untuk menjaga reputasinya.

Menurutnya, pengadilan terhadap Jessica sudah dijalankan sebagaimana mestinya.

“Pengacara adalah orang hebat, orang pintar, namun kalau arena sistem peradilan pidana anda belum mampu sepenuhnya bisa menang sesuai harapan, jangan gunakan arena lain yg tujuannya untuk menjaga kredibilitas anda sbg pengacara,” ujarnya.

Krishna Murti menilai bahwa pernyataan Otto Hasibuan menyesatkan kembali.

“Penyidik, JPU, hakim termasuk pengacara yg berperkara adalah tidak etis mengomentari hasil putusan peradilan. Makanya kami diam. tapi omongan anda di berbagai media banyak mengandung kebohongan yg menghasut pikiran publik,” ucap Krishna Murti.

“Karena pembunuhan dg racun dimuka bumi manapun 90% tdk ada saksi mata yg melihat secara langsung, makanya digunakan pembuktian secara ilmiah yg sdh dihadirkan prosesnya secara adil pada sidang terbuka,” imbuhnya.

Akan tetapi, semenjak Ice Cold tayang, kubu pembela Jessica Wongso pun perlahan berbaris dan besuara di media sosial.

Keluarga Mirna Salihin merasa kecewa juga karena belakangan ini tudingan miring bak bergulir ke arah mereka imbas dari tayangan dokumenter Netflix Ice Cold itu.